http://beta.fajar.co.id/read-20110522014537--politikus-muda-di-panggung-politik
Minggu, 22 Mei 2011 | 01:45:37 WITA | 462 HITS
Politikus Muda di Panggung Politik
BANYAKNYA
partai politik yang menjadi kontestan di pemilu pasca reformasi membuka
kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi sebagai politikus. Tak
terkecuali anak-anak muda yang tidak jelas kadar kekaderannya.
SOSIALISASI.
Baliho Adi Rasyid Ali yang terpasang di Jl AP Pettarani. Kader Partai
Demokrat ini menjadi salah satu politikus muda di Sulsel.
Seolah ingin memperlihatkan diri mampu menggalang dukungan dan
lebih enerjik, mereka pun berbaris masuk ke DPRD. Mulai dari level
kabupaten kota, provinsi hingga pusat, jumlah politiku muda semakin
besar.
Tak hanya di legislatif, tokoh-tokoh muda juga bermunculan di
pemilihan kepala daerah. Salah satu contoh nyata yakni Bupati Sidrap,
Rusdi Masse. Ia dilantik sebagai bupati setelah melalui proses pemilihan
langsung pada usia kurang lebih 35 tahun.
Saat ini, tanda-tanda munculnya penerus Rusdi juga sudah terlihat.
Beberapa kabupaten yang akan menggelar pemilukada sudah memperlihatkan
keinginan sejumlah kader muda partai untuk ikut bertarung. Misalnya,
Irwan Patawari di Sinjai, dan Syamsari Kitta di Takalar. Para bupati
yang akan segera melepas kursinya juga tak ketinggalan menyiapkan putra
mahkotanya. Di Bone, Bupati Idris Galigo sudah menyiapkan anaknya, Andi
Muhammad Irsan Idris Galigo. Di Jeneponto, Bupati, Radjamilo juga tak
mau ketinggalan dengan mempersiapkan anaknya, Ashari Radjamilo.
Pengamat politik Sulsel, Dr Hasrullah juga mengamati fenomena ini.
Hanya saja menurut dia, sebagian politikus atau tokoh muda yang akan
maju di pemilukada masih membawa nama besar ayahnya. Ia sejauh ini belum
melihat kapasitas intelektual.
"Itu tidak muncul sekarang. Kebanyakan hanya dipajang oleh foto dan
baliho bahwa ini anaknya si A, si B, dan si C. Kita tidak pernah
melihat gagasan dan pikiran cemerlangnya," katanya.
HM Roem, politikus senior Sulsel, mengatakan, sebenarnya, dalam
politik, tidak ada kriteria usia. "Yang penting sebenarnya bukan aji
mumpung. Karena lagi tren, ramai-ramai lagi di situ. Ini penting sebab
ini soal masa depan bangsa. Makanya harus kapabel dan bermartabat. Saya
sendiri sejak mahasiswa sudah dikader. Minimal kita tidak
loncat-loncat. Harus sabaran. Ini menyangkut martabat bangsa," katanya.
Politkus Golkar, Ajeip Padindang sendiri tak sepakat jika ada
istilah tua dan muda dalam politik. "Yang ada adalah kompetensi
masing-masing," katanya di gedung DPRD Jumat, 20 Mei.
Anggota DPRD Sulsel dari Partai Demokrat, Andi Januar Jaury Darwis
mengatakan, politikus muda jangan terjun ke kancah politik karena
jaminan kuantitas jaringan dan nama besar orang tuanya. "Harus karena
kompetensi dan daya kepemimpinan," ujar politikus muda ini.
Aerin Nizar, politikus Demokrat lainnya tak mau berbicara panjang
tentang polikus muda dan tua. Baginya, batasan tersebut hanya pada
pandangan lama atau barunya seseorang pada tempat tertentu. "Kalau
disebut muda, maka saya harus memperlihatkan prestasi maksimal,"
ujarnya.
Meski tak ada larangan bagi politkus muda berkiprah dini, salah
seorang aktivitis Turatea yang juga ketua Forum Pemberhati Masyarakat
Turatea (FPMT) Jeneponto, Muhammad Tamara mengatakan, politikus muda
hingga kini belum mampu berbuat banyak menjawab harapan rakyat.
"Yang menonjol justru kelemahan mereka dalam pengalaman politik
yang masih rendah. Tidak tampak penghitungan cermat, gagasan, apalagi
terobosan baru," kritiknya.
Tokoh masyarakat Bangkala Barat, Jeneponto, Saharuddin, mengatakan
hal sama. "Mereka tidak punya integritas. Kadang mengkhianati rakyat,"
katanya.
Di tengah banyaknya kritikan atas kinerja politikus muda yang duduk
di parlemen, tetap saja ada harapan masyarakat kepada mereka. Seorang
karyawan perusahaan swasta di Maros, Alisya mengatakan kehadiran
politisi muda pada dasarnya bagus.
"Artinya ada proses regenerasi di tubuh DPRD. Tapi mereka memang masih harus belajar banyak," kata warga Perumnas Tumalia ini.
Ketua Umum PP HPPMI Maros, Anas RA, mengatakan kehadiran politikus
muda di parlemen adalah sebuah kebanggan. Ini tanda adanya dinamika
politik lokal Butta Salewangang. "Tapi itu bukanlah garansi sebuah
perubahan jika mereka tidak mampu menafsirkan dan memahami keinginan
seluruh elemen masyarakat," katanya. (tim)
No comments:
Post a Comment