Beasiswa Doktoral ke LN Dihentikan
Selasa, 10 Mei 2011 01:02
MAKASSAR–
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel menghentikan pemberian beasiswa
bagi mahasiswa program doktoral (S-3) ke luar negeri. Kebijakan ini
mulai berlaku mulai tahun depan.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik)
Sulsel Patabai Pabokori mengatakan, penghentian itu dilakukan setelah
mengevaluasi mahasiswa program S-3 yang telah dikirim ke luar negeri di
dua periode. Hasilnya, ditemukan permasalahan seperti adanya mahasiswa
yang meminta pindah ke negara lain untuk menyelesaikan studinya. Hal ini
disebabkan keterbatasan mahasiswa menguasai bahasa Inggris.
Selain
itu, adanya mahasiswa yang telah mendapat beasiswa dari Pemprov
Sulsel.Ternyata, dia tak melanjutkan kuliahnya karena mendapat tawaran
beasiswa dari lembaga nonpemerintah di LN. ”Faktor bahasa kebanyakan
menjadi kendala.Kami akui sejak perekrutan program ini pada 2009 sangat
tidak ketat. Itu karena ketika perekrutan tidak dibentuk tim seleksi,
seperti saat ini yang melibatkan Unhas dan UNM,”ujarnya saat menerima
kunjungan kerja (kunker) tim I Pansus LKPj Gubernur 2010,kemarin.
Sesungguhnya
sebelum berangkat, calon mahasiswa sudah diikutkan tes TOEFL sesuai
standar yang ada.Hanya, ketika berada di luar ngeri dan dilakukan tes
ulang,nilai mereka tidak sesuai hasil tes TOEFL yang dilaksanakan di
dalam negeri. Buktinya, urai mantan Bupati Bulukumba ini,dari 56
mahasiswa S-3 yang mendapat beasiswa studi di Selandia Baru selama 2009
dan 2010,hanya 29 yang bertahan melanjutkan studinya di negara tersebut.
Itu
pun baru 8 orang yang sudah aktif kuliah,13 mahasiswa sementara kursus
perbaikan, 5 orang lagi sudah dalam tahap promosi doktor. Sisanya
sekitar 19 mahasiswa memilih pindah negara,16 orang ke Malaysia,dan 3 ke
Australia. Satu di antara yang pindah tersebut sedang hamil sehingga
tidak diberangkatkan. Sementara itu, enam mahasiswa lain tidak
melanjutkan karena program beasiswa telah selesai.
“Tujuh orang
lagi mundur karena satu dapat beasiswa dari sumber lain, 1 sakit, 1
belum terdaftar, 1 jadi pejabat, dan 1 jadi PNS,” papar Pabokori.
Sementara untuk perekrutan tahun ini yang akan mulai kuliah Juli 2011,
ditargetkan ada sekitar 300 mahasiswa dengan alokasi dana yang disiapkan
Rp 38 miliar. Negara yang dituju, yaitu Australia, Selandia
Baru,Malaysia,Jepang,Belanda, dan Jerman.
Kepala Seksi
Pembangunan Manajemen Sumber Daya (PMS) Disdik Sulsel Haerullah
menuturkan, rata-rata beasiswa yang diberikan bervariasi antara Rp 80
juta hingga Rp 180 juta. Itu berdasarkan negara tujuan, khusus Jepang
per semester diberikan Rp 180 juta dan Malaysia hanya Rp 51 juta.
Pabokori menjelaskan, sejak 2009 hingga 2010, tercatat sekitar 300
mahasiswa yang dikirim ke luar negeri.
Masing masing 100 orang
menghabiskan dana Rp 4,9 miliar dan 200 orang dianggarkan Rp 22,9
miliar. ”Khusus tahun ini memang alokasinya besar karena jumlah yang
direkrut cukup banyak. Namun, dipastikan dua tahun ke depan akan
menurun, sebab yang diberikan beasiswa khusus penyelesaian studi
saja,”ungkapnya. Pemprov menargetkan ada 500 mahasiswa Sulsel akan
diupayakan menjadi doktor.
Target itu diharapkan bisa rampung
pada 2013. Mahasiswa yang sudah selesai, sesuai kontrak yang
ditandatangani diwajibkan mengabdi ke Pemprov untuk mengaplikasikan ilmu
yang diperolehnya. Anggota Pansus LKPj Gubernur
Aerin Nizar menegaskan,
mestinya Pemprov tidak sekadar mengejar kuantitas, melainkan harus
mengedepankan kualitas.
Akibat tidak maksimalnya proses
perekrutan justru merugikan pendanaan, meski kenyataannya mereka yang
gagal lanjut akan mengembalikan dana tersebut. “Program ini harus dikaji
ulang supaya untuk perekrutan ke depan yang lolos itu kualitasnya
benar-benar tidak diragukan.
Diharapkan tidak terjadi lagi kasus
berpindah perguruan tinggi untuk menyelesaikan studi,” ujar anggota
Komisi D DPRD Sulsel ini. Anggota pansus lainnya, Amir Uskara,
menambahkan, perlu ada kejelasan kontribusi mereka ke Pemprov setelah
lulus.Setelah mereka kembali, dikhawatirkan justru tidak memberi
manfaat. Seputar Indonesia- suwarny dammar